Jumat, 06 November 2015

Soe Hok Gie

KISAH SANG PEMBERONTAK, SOE HOK GIE

Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan--seorang penulis. Ia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, sosiolog terkemuka. 

Sebagai peranakan Tionghoa, ia lebih dekat dengan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dan Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB). Tapi, di LPKB, Gie juga bersikap kritis. Ujung-ujungnya ia dipecat dengan sejumlah tuduhan miring diarahkan ke dadanya.

Sejak kecil, Soe Hok Gie telah memperlihatkan diri sebagai seorang pemberontak. Nuraninya gampang tersentuh saat melihat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Ketika ia duduk di kelas 2 SMP, guru Ilmu Bumi mengurangi nilai ulangannya tanpa alasan: dari 8 menjadi 5. Gie marah sekali. Ia tulis dalam buku hariannya, 4 Maret 1957: "Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu...Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu."

Beberapa tahun kemudian, sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (UI), Gie menjadi salah seorang pemimpin mahasiswa dalam aksi menumbangkan Orde Lama pada 1966. Ia menjadi tokoh mahasiswa Angkatan 66 bersama nama-nama lain seperti Cosmas Batubara, Soegeng Sarjadi, Mar'ie Muhammad, atau Nono Anwar Makarim.

Protes-protes itu ditujukan kepada pemerintah yang dianggap tak becus mengurus negara, pejabat yang hanya memperkaya diri sendiri, juga terhadap kebijakan "memberi angin" kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Gie dan teman-temannya jelas juga berhadapan dengan Sang Bapak Bangsa, Sukarno. Ia sendiri menilai Sukarno sebagai manusia yang baik. Namun, ia menulis di catatan harian, "...dikelilingi oleh Menteri-menteri Dorna yang hanya memberikan laporan-laporan yang bagus-bagus saja."

Ia juga penulis yang produktif. Tulisannya tersebar di Harian KAMI, Kompas, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, danIndonesia Raya. Ia menulis di rumah keluarganya di Jalan Kebon Jeruk IX, dekat Glodok, Jakarta Barat. Di kamar belakang yang temaram, berteman nyamuk, ketika kebanyakan orang telah terlelap dalam mimpi.   

Saat Orde Lama tumbang dan Orde Baru tegak, sejumlah pentolan Angkatan 66 masuk parlemen. Gie tetap di luar. Tapi mengirimi pupur dan lipstik --tentu sebagai sindiran-- agar mereka terlihat elok di mata penguasa. Sebelum mendaki Semeru, ia mengirim bedak, gincu, dan cermin kepada 13 aktivis mahasiswa yang menjadi anggota DPR setelah Orde Baru berkuasa. Harapannya, agar mereka bisa berdandan dan tambah "cantik" di hadapan penguasa. 

Gie kecewa dengan teman-teman mahasiswanya di DPR. Mereka dianggap sudah melupakan rakyat, lebih mementingkan kedudukannya di parlemen. Buat Gie, aktivis mehasiswa sebagainya hanya menjadi kekuatan moral, bukan pelaku politik praktis.

Dalam surat pengantar kiriman, 12 Desember 1969, ia menulis, "Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmati kursi Anda--tidurlah nyenyak."
 
Selain membaca dan menulis, hobi Gie adalah mendaki gunung. Ia menjadi salah seorang pendiri organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UI. 

"Mencintai Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung," tulis Gie di esaiMenaklukkan Gunung Slamet.

Di gunung pula, Gie menghembuskan nafas terakhir. Ia meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969, akibat menghirup asap beracun di sana. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Lubis.

Pada 2005, kisah hidupnya diangkat ke layar lebar oleh sutradara Riri Riza dalam film Gie. Nicholas Saputra didapuk memerankan Gie. Karya itu menyabet 3 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005, termasuk gelar Aktor Terbaik untuk Nicholas.

Gie adalah tipikal intelektual sejati. Berani melawan arus jika diperlukan. Tak membeo.

Dalam artikel Di Sekitar Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali, Gie mengkritik aksi perburuan dan pembunuhan kader serta simpatisan PKI pasca-G30S. Tulisan itu dimuat diMahasiswa Indonesia, Desember 1967. 

Ia menulis, "...di pulau yang indah ini telah terjadi suatu malapetaka yang mengerikan, suatu penyembelihan besar-besaran yang mungkin tiada taranya dalam zaman moderen ini, baik dari waktu yang begitu singkat maupun dari jumlah mereka yang disembelih..."

Pada hari-hari itu, tak banyak intelektual Indonesia yang mengecam. Nyaris semua diam, dengan alasan masing-masing.

Akibat kritik-kritik dalam tulisannya, ia pernah menerima surat kaleng. Petikannya, "Cina tak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja."

Kakaknya, Arief Budiman, berkisah bahwa ibu mereka berkata, "Gie, untuk apa semuanya ini? Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." 

Ditegur seperti itu, pria berperawakan kecil itu menjawab pendek seraya tersenyum, "Ah, Mama tidak mengerti."

Gie dimakamkan di lingkungan Museum Taman Prasasti, Tanah Abang, Jakarta. Di nisannya, tertulis, "Nobody can see the trouble I see, nobody knows my sorrow."


Liputan6.com


Selasa, 22 September 2015

Ilmu kedokteran berawal dari islam

MENGENAL IBNU SINA - BAPAK KEDOKTERAN DUNIA

Bernama lengkap Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.

Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian:

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.”

Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya. Kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, raja dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Muk, penguasa Hamedan, tak menghalangi beliau untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.

Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.

Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

• Sumbangan Ibnu Sina Dalam Dunia Kedokteran

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi”

Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.

• Ibnu Sina dan Filsafat

Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.

Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Wikkipedia.com

Jumat, 11 September 2015

11 september

14 TAHUN TRAGEDI 9/11

Runtuhnya Menara Kembar World Trade Center di New York terjadi hanya dalam dua jam. Peristiwa itu dikenal sebagai Tragedi 9/11.

Sebagaimana dilansir History, Jumat (11/9/2015), Tragedi 9/11 merupakan serangkaian serangan bunuh diri yang telah direncanakan dengan apik terhadap target-target vital Pemerintah Amerika Serikat (AS) seperti Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York dan Gedung Pentagon di Washington DC.

Tragedi itu terjadi pada Selasa 11 September 2001 pukul 08.45 waktu setempat. Sekelompok pembajak dari militan Al Qaeda telah menyusup ke dalam empat penerbangan sipil AS dan membajak pesawat-pesawat tersebut.

Target mereka adalah bangunan-bangunan vital bagi Pemerintah AS seperti Menara Kembar World Trade Center di New York, dan Gedung Pentagon di Washington DC. Pesawat American Airlines pertama diketahui menabrakan diri menuju bagian utara Menara Kembar World Trade Center.

Dampaknya, lubang menganga dan kebakaran dahsyat terlihat dari lantai 80 Menara WTC tersebut. Ratusan warga AS tewas dalam serangan pertama tersebut, sementara ratusan lainnnya harus menunggu pertolongan karena terjebak di lantai yang lebih tinggi.

Kemudian, 18 menit setelah pesawat pertama menghantam bagian utara Menara WTC, pesawat Boeing 767 kedua milik American Airlines terlihat di langit dan menukik tajam untuk kembali menghantam Menara WTC. Hantaman kedua itu menghasilkan ledakan dahsyat yang membuat puing-puing menara berhamburan ke jalanan di bawahnya.

Ketika itu, pesawat ketiga milik American Airlines yang dibajak teroris tersebut juga menghantam sebagian Gedung Pentagon di Washington DC. Namun, pesawat keempat yang dibajak dipercaya merupakan kegagalan sebagian rencana teroris itu. Sebab, pesawat keempat tersebut gagal menghancurkan Gedung Pentagon dan hanya menghantam sebuah lapangan luas dekat Pennsylvania.

Berdasarkan laporan tim investigasi AS, lebih dari 3.000 jiwa tewas dalam tragedi mengerikan tersebut. Tiga tahun setelah tragedi itu terjadi, Pemimpin kelompok Al Qaeda Osama bin Laden mengklaim bertanggung jawab atas serangan 9/11.

Pada Mei 2011, setelah diburu bertahun-tahun, Presiden Obama mennyatakan bahwa bin Laden ditemukan dan ditembak mati oleh marinir AS dalam sebuah penyerbuan. Kendati demikian, hingga kini berbagai teori konspirasi terus bermunculan mengenai terbunuhnya Osama bin Laden dalam penyerbuan oleh Marinir AS.

Sumber
Okezone.com


Ibu Siti Fadillah

IBU SITI FADILLAH, PENDOBRAK KONSPIRASI VAKSIN FLU BURUNG

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian Influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.

Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. 
Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Sumber
https://konspirasizionis.wordpress.com/2010/09/06/perjuangan-ibu-siti-fadilah-supari-dalam-melawan-konspirasi-usa-vaksin-flu-burung-di-indonesia/#more-133

Surga yang terpendam.

Benarkah Negeri Saba Ada di Indonesia? Apakah nama "Sleman" berasal dari kata "Sulaiman" dan nama "Wonosobo" berasal dari kata "Saba"? Lantas, apakah Candi Borobudur bukan peninggalan buddha? 

NEGERI Saba yang hilang di zaman Nabi Sulaiman dan digambarkan sebagai bagian dari surga yang ada di bumi, ternyata berada di Indonesia. Fakta mengejutkan itu disampaikan ahli matematika Islam KH Fahmi Basya Hamdi. 

Melalui penelitian selama 33 tahun lebih, sejak 1979 hingga kini, penulis bukan hanya memaparkan tentang peninggalan Nabi Sulaiman yang agung. Tetapi merekonstruksi sejarah Nusantara.

"Alquran datang tidak hanya meluruskan ilmu tauhid dan akhlak manusia, tetapi juga meluruskan dunia kepurbakalaan kita," katanya seperti dikutip dalam buku Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman, cetakan ke-7, Januari 2014, terbitan Zaytuna.

Menurut penulis, ciri-ciri Negeri Saba yang pernah disinggahi Nabi Sulaiman dan tentaranya telah digambarkan dengan jelas dalam Alquran, melalui kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Kisah itu berawal saat Sulaiman pergi ke Yaman. 

Saat berada di Yaman, Sulaiman meminta kepada burung hud-hud (sejenis belatuk) untuk mencari sumber air. Setelah lama disuruh dan tak kembali, bahkan setelah dipanggil, burung hud-hud akhirnya kembali. 

"Aku telah terbang untuk mengintip dan berjumpa suatu yang sangat penting untuk diketahui oleh tuan," demikian kata burung hud-hud kepada Nabi Sulaiman. Pernyataan itu mengundang rasa penasaran Nabi Sulaiman. 

Dilanjutkan burung hud-hud, saat sedang mencari sumber mata air, dia terbang jauh dan melihat satu negeri yang sangat indah. Negeri itu bernama Negeri Saba dan dipimpin oleh seorang raja perempuan yang dikenal dengan Ratu Balqis. 

Istana yang dilihat oleh burung hud-hud itu, menurut Basya, berada di antara dua dukuh, yakni Dukuh Dawung dan Dukuh Sambireja, Desa Bokoharjo dan Desa Prambanan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Indonesia.

"Pemakaian istilah Ratu Boko dalam penelitian ini sekedar (untuk) mengenali tempat, karena tempat itu sekarang bernama Istana Ratu Boko, bukan untuk mengatakan bahwa Ratu Saba (atau Ratu Balqis) sama dengan Ratu Boko," sambung Basya. 

Dilanjutkan burung hud-hud, Ratu Balqis dan pengikutnya bersujud menyembah matahari dan meninggalkan ibadat menyembah Allah. Dia dan pengikutnya juga telah disilapkan matanya oleh syaitan kepada perbuatan yang syirik.

Setelah mendengar keterangan burung hud-hud, Nabi Sulaiman marah besar. Sebab tidak ada Tuhan lain yang patut disembah, selain Allah. Kemudian dia menulis surat yang isinya meminta Ratu Balqis kembali ke jalan Allah. 

Surat itu diberikan oleh burung hud-hud dan diterima Ratu Balqis. Penulis mengklaim, surat Nabi Sulaiman itu ditemukan, di dalam kolam Istana Ratu Boko, terbuat dari lempengan emas. Begitupun dengan tempat upacara menyembah matahari. 

Mendapat surat Nabi Sulaiman, Ratu Balqis tidak langsung bertobat. Dia malah meminta pengawalnya untuk mengirimkan harta yang berlimpah ke istana Nabi Sulaiman. Pemberian itu dianggap sebagai penolakan atas ajakan kembali ke jalan Allah. 

Nabi Sulaiman pun semakin berang dan memerintahkan kepada para pengikut Ratu Balqis untuk kembali ke Negeri Saba. Bahkan, Sulaiman mengancam akan menyerang Negeri Saba dengan bala tentaranya. 

"Kami akan mendatangi mereka dengan angkatan tentara yang mereka tidak berdaya menentangnya, dan kami akan mengeluarkan mereka dari Negeri Saba dengan keadaan hina, menjadi orang-orang tawanan," kata Nabi Sulaiman.

Para pengikut Ratu Balqis pun kembali ke Negeri Saba dan menceritakan pengalamannya selama berada di istana Nabi Sulaiman. Mendengar cerita para pengikutnya, Ratu Balqis berniat mendatangi langsung Sulaiman. 

Niat Ratu Balqis menemui Sulaiman ternyata sudah diketahui Sulaiman. Dia lalu memerintahkan kepada para pengawalnya, terdiri dari manusia, hewan dan jin, untuk membuat upacara penyambutan kedatangan Ratu Balqis.

"Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgahsananya (Ratu Balqis) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang yang berserah diri," kata Nabi Sulaiman kepada pengikutnya.

Di antara pengikutnya, dari bangsa jin menjawab sanggup. ”Aku akan datang kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya, lagi dapat dipercaya," jawab Ifrit. 

Pengikut Sulaiman lainnya, dari kalangan manusia yang berpikir menimpali. “Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip," terang pengikut Nabi Sulaiman dari kalangan manusia.

Sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip, singgahsana Ratu Balqis yang berada di Negeri Saba telah dipindah ke hadapan Nabi Sulaiman. Puji syukur atas nikmat Allah pun dipanjatkan oleh Nabi Sulaiman saat melihat pemandangan itu. 

Akhirnya, datanglah Ratu Balqis menghadap Nabi Sulaiman. Kepada Ratu Balqis, Sulaiman memperlihatkan apa yang ada dihadapannya sebagai istana yang mirip dengan yang ada di Negeri Saba. Melihat itu Ratu Balqis terkejut. 

Kemudian Nabi Sulaiman mempersilakan kepada Ratu Balqis masuk ke dalam istananya. Saat akan masuk, dia melihat air besar berada di lantai Istana Nabi Sulaiman. Dengan sigap, Ratu Balqis menyingkap kainnya hingga betisnya terlihat. 

Ternyata, air yang dilihat Ratu Balqis pada lantai istana Nabi Sulaiman, adalah kaca. "Sesungguhnya ia istana licin yang diperbuat daripada kaca," kata Sulaiman menjelaskan kepada Ratu Balqis yang keheranan. 

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman dan kepada Allah, Tuhan semesta alam," balas Ratu Balqis mengakui kebesaran Nabi Sulaiman. 

Setelah mengalami langsung kebesaran Nabi Sulaiman dan merasakan nikmat Allah, Ratu Balqis akhirnya ikut menyembah Allah, dan meninggalkan upacara menyembah matahari di Negeri Saba. Akhirnya, mereka pun menikah. 

Dari kisah tersebut, Basya menemukan sedikitnya 40 fakta lapangan yang menyebutkan Indonesia sebagai Negeri Saba yang hilang. Di antara fakta lapangan tersebut adalah: 

Pertama, surat yang dikirimkan Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis di Negeri Saba. Surat itu ditemukan di kolam Istana Ratu Boko dan terbuat dari plat emas bertuliskan nama Tuhan yang paling tinggi.

Kedua adalah Istana Ratu Balqis yang dipindahkan Nabi Sulaiman ke istananya melalui kekuatan jin yang bekerjasama dengan manusia, dan hewan. Istana itu diyakini berada di kawasan Sleman, Jawa Tengah.

Ketiga adalah Istana Ratu Boko yang telah rusak. Menurut penulis, kerusakan itu bukan diperbuat oleh tangan-tangan manusia. Tetapi oleh tangan-tangan jin dan gaib. Hal itu terlihat dari bekas kerusakan pada batu di istana itu.

eempat adalah tempat bersujud menghadap matahari di Istana Ratu Boko. Di tempat inilah burung hud-hud melihat Ratu Balqis dan pengikutnya sedang melakukan upacara menyembah matahari.

Kelima adalah tamatsil Ratu Bilqis sedang menyingsingkan kainnya ketika disuruh masuk ke Istana Nabi Sulaiman yang dia sangka air besar. Sejumlah fakta inilah yang melahirkan teori awal Indonesia negeri Saba yang hilang. 

Fakta penguat Negeri Saba di Indonesia, dan bukan di Yaman adalah, hutan Saba di Wonosobo dan daerah Sleman yang diambil dari nama Nabi Sulaiman. Sementara di Yaman, hanya ada prasasti bertuliskan Sabum. 

Begitupun tempat bersujud menghadap matahari yang hanya ditemukan di Istana Ratu Boko, bukan di Nyaman. Kemudian adalah surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Saba atau Ratu Balqis. Surat ini ada di Istana Ratu Boko, terbuat dari lempengan emas.

Keempat adalah tempat bersujud menghadap matahari di Istana Ratu Boko. Di tempat inilah burung hud-hud melihat Ratu Balqis dan pengikutnya sedang melakukan upacara menyembah matahari.

Kelima adalah tamatsil Ratu Bilqis sedang menyingsingkan kainnya ketika disuruh masuk ke Istana Nabi Sulaiman yang dia sangka air besar. Sejumlah fakta inilah yang melahirkan teori awal Indonesia negeri Saba yang hilang. 

Fakta penguat Negeri Saba di Indonesia, dan bukan di Yaman adalah, hutan Saba di Wonosobo dan daerah Sleman yang diambil dari nama Nabi Sulaiman. Sementara di Yaman, hanya ada prasasti bertuliskan Sabum. 

Begitupun tempat bersujud menghadap matahari yang hanya ditemukan di Istana Ratu Boko, bukan di Nyaman. Kemudian adalah surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Saba atau Ratu Balqis. Surat ini ada di Istana Ratu Boko, terbuat dari lempengan emas.

Sementara di Yaman, surat ini tidak pernah ditemukan. Terakhir adalah pemindahan Istana Ratu Balqis ke Kerajaan Nabi Sulaiman. Di Yaman, tidak ada bekas reruntuhan istana yang menunjukkan tanda-tanda adanya Istana Ratu Balqis. 

Sedang di Istana Ratu Boko, reruntuhan itu masih terlihat hingga kini. Namun begitu, kebenaran atas penelitian tersebut dikembalikan kepada pembaca sekalian. 

Sumber : http://daerah.sindonews.com/read/882014/29/indonesia-negeri-saba-yang-hilang-1405062377/3

Mengapa 1 menit : 60 Detik????

MENGAPA 1 MENIT = 60 DETIK? MENGAPA HARUS 60?

Pernahkah kita bertanya tanya dan penasaran mengapa, 1 menit harus 60 detik, dan 1 jam 60 menit, kenapa harus 60 ? Ternyata ada sejarahnya lho. 

Simak penjelasan lengkapnya.. 

Bilangan 60 digunakan untuk menyatakan waktu, sejam 60 menit, semenit 60 detik. Bilangan 60 ini digunakan pertama kali oleh bangsa Sumeria, jadi mereka berhitung dengan basis 60 atau disebut juga Sexagesimal. 

Alasan kenapa digunakan bilangan 60 adalah bilangan ini bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam angka pertama yaitu: 1,2,3,4,5,6. 

Jadi dengan mudah kita bisa terbayang: 1/2 jam = 30 mnt, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit, dst. Bayangkan kalau satu jam = 100 menit, berarti 1/3 jam = 33,333 menit??? Ribet coy.

Kalo kata matematisnya, 60 itu highly composite number, atau bilangan yang angka pembaginya/faktornya banyak, yaitu 1,2,3,4,5,6,10,12,15,20,30,60. 

Sejarah Awal

Istilah second dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "second minute" yang berarti bagian terkecil dari satu jam. Definisi ini diratifikasi oleh General Conference on Weights and Measures ke-11 di tahun 1960. Referensi ke tahun 1900 bukan berarti ini adalah epoch dari hari matahari yang berisikan 86.400 detik, melainkan ini adalah epoch dari tahun tropis yang berisi 31.556.925,9747 detik dari waktu Ephemeris (Ephemeris Time).


Ephemeris Time (ET) telah didefinisikan sebagai ukuran waktu yang memberikan posisi obyek angkasa yang terlihat sesuai dengan teori gerakan dinamis Newton. Dengan dibuatnya jam atom, maka ditentukanlah penggunaan jam atom sebagai dasar pendefinisian dari detik, bukan lagi dengan putaran bumi.


Dari hasil kerja beberapa tahun, dua astronom di United States Naval Observatory dan dua astronom di National Physical Laboratory (Teddington, England) menentukan hubungan dari hyperfine transition frequency atom caesium dan detik ephemeris. Dengan menggunakan metode pengukuran common-view berdasarkan sinyal yang diterima dari stasiun radio WWV, mereka menentukan bahwa gerakan orbital bulan disekeliling bumi dapat menerka gerakan matahari dengan jelas dalam satuan waktu jam atom.


Ditahun 1967, General Conference on Weights and Measures mendefinisikan detik dari waktu atom dalam International System of Units sebagai durasi sepanjang 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan Ground State (ketidak-adaan nol (0) medan magnet) dari atom cesium-133 pada suhu nol kelvin. Penjelasan mudahnya, paling umum 1 detik adalah 1/60 menit atau 1/3600 jam.

Sumber : http://pemberiilmu.blogspot.com/2013/02/kenapa-1-jam-60-menit-atau-1-menit-60.html?m=1

https://id.crowdvoice.com/posts/sejarah-mengapa-1-menit-60-detik-2ivD

Kamis, 10 September 2015

Ilmuan Nuklir Tewas Misterius ???!

MISTERI TEWASNYA ILMUWAN NUKLIR INDIA DAN IRAN


Sejumlah ilmuwan nuklir India tewas secara misterius. Polisi yang menangani kasus kematian mereka seringkali hanya sampai pada dua kesimpulan: tak ada penjelasan atau bunuh diri. Kasus ditutup.

Namun, benarkah sesederhana itu? Menurut sebuah artikel yang diterbitkan situs Vice, kematian misterius menimpa dua ahli nuklir dengan jabatan tinggi, KK Josh dan Abhish Shivan. Bulan lalu keduanya ditemukan tak bernyawa di rel kereta api. Namun, tak ada indikasi mereka tewas ditabrak sepur.  

Kabar yang beredar menyebut, dua ilmuwan diracun di suatu tempat sebelum dibawa ke rel -- diduga untuk membuat kematian mereka seakan akibat kecelakaan atau bunuh diri. Namun, aparat menganggapnya kasus biasa. 

Kedua ilmuwan bekerja di INS Arihant, kapal selam bertenaga nuklir pertama India. 

Pada Juni 2009, ketika jasad ilmuwan nuklir yang lain, Lokanathan Mahalingam ditemukan, pihak berwenang seakan dengan gampang menyebutnya sebagai kasus bunuh diri. 

Media di India pun dianggap mengabaikannya. Sebaliknya, media Pakistan terus memberitakan kasus tersebut dan menggarisbawahi betapa cepatnya petugas keamanan menyatakan kematian Mahalingam sebagai bunuh diri, padahal tak ada pesan yang ditinggalkan korban.

"Lima tahun sebelumnya, di hutan yang sama tempat Mahalingam ditemukan, kelompok bersenjata canggih diduga berusaha menculik seorang pejabat India Nuclear Power Corporation (NPC). Target berhasil melarikan diri," demikian menurut artikel Vice yang dilansir situsOne India, Jumat (29/11/2013). 

Karyawan NPC lain, RVI Mule tewas terbunuh, namun polisi tak berhasil membuat kemajuan dalam kasusnya. 

Sementara itu, pada April 2011, mantan ilmuwan nuklir, Uma Rao juga ditemukan tak lagi hidup. Polisi juga mengklaim penyebabnya adalah bunuh diri -- sebaliknya pihak keluarga menolak mentah-mentah kesimpulan tersebut.

Ada juga kasus saat polisi menyimpulkan, penyebab kematian tak bisa dijelaskan. Salah satunya yang menimpa M Iyer, yang ditemukan dengan perdarahan internal pada tengkoraknya. 

Penyelidikan polisi berakhir begitu saja karena tak ditemukan bekas luka dan bukti pendukung. 

Wartawan India, Madhav Nalapat menyarankan polisi membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus kematian para ilmuwan nuklir. Sebab, bisa jadi, ada peran pembunuh profesional. 

"Orang-orang ini bekerja untuk program kapal selam, membangun reaktor, dan akhirnya tewas, dinyatakan 'bunuh diri' atau bisa jadi dibunuh. Mengherankan fakta-fakta itu belum dilihat sebagai hal mencurigakan," kata Madhav.  

Apakah ada konspirasi menghabisi para ilmuwan untuk menghambat kemajuan teknologi nuklir India? Madhav mengaku, bisa jadi.

Namun, bukan siapa di balik kematian para ilmuwan nuklir yang jadi pertanyaan besar, melainkan mengapa pemerintah India seakan apatis. "Saat ini para ilmuwan yang punya arti penting dalam pengembangan program nuklir India, apakah untuk tujuan energi atau keamanan, sama sekali tak punya perlindungan. Tak ada. Nol," kata Madhav.


Tak hanya India, Iran pun punya pertanyaan yang sama: "Siapa yang membunuh ilmuwan nuklir kami?"

Pada Januari 2012 lalu, sebuah ledakan menewaskan Mostafa Ahmadi Roshan, pejabat penting di pabrik pengayaan uranium Natanz.

Dia adalah orang ketiga yang  teridentifikasi sebagai ilmuwan nuklir, yang meninggal di Iran akibat ledakan misterius dalam kurun waktu 2 tahun. Orang keempat, selamat dari ancaman pembunuhan.

Dalam setiap kasus, seseorang menempatkan bom di bawah mobil para ilmuwan.

Para pejabat Iran saat itu menuding Israel dan Amerika Serikat. Namun, tudingan itu dibantah AS. " Saya dengan tegas menyangkal keterlibatan Amerika Serikat dalam setiap jenis tindak kekerasan di Iran," kata Menteri Luar Negeri AS kala itu Hillary Clinton seperti kutipan dari CNN

Sementara, Israel menolak berkomentar. Namun Brigadir Jenderal Yoav Mordechai, juru bicara Angkatan Bersenjata Israel menulis dalam Facebook-nya, "Aku tak bisa menebak siapa yang menargetkan ilmuwan Iran, tapi yang jelas aku sama sekali tak meneteskan air mata."

Pembunuhan pertama terjadi pada Januari 2010, dosen sekaligus ilmuwan nuklir Iran, Massoud Ali Mohammadi tewas dalam serangan bom mobil. Namun, sejumlah orang menduga, rezim pemerintah Iran ada di balik pembunuhan itu. 

Sebab, Mohammadi adalah pendukung vokal gerakan hijau dan terlibat dalam gerakan protes menentang program pemerintah.

Namun, pria yang terbunuh pada November 2010, Majid Shahriari dan yang lolos percobaan pembunuhan, Fereydoon Abbas keduanya adalah set penting program nuklir Iran. 

Ada apakah dibalik ini semua? 

Sumber
http://m.liputan6.com/news/read/759817/satu-per-satu-ilmuwan-nuklir-india-tewas-misterius-ada-apa