Selasa, 08 September 2015

Ada apa di balik perdamaian duo Korea?

KONSPIRASI DIBALIK PERDAMAIAN DUO KOREA

Iyaaaa tau guee tau udah damaiii. Tadi itu cuma intro untuk ke artikel ini doang kok. Silahkan dinikmati.

Seoul - Dialog maraton yang dilakukan Korea Selatan dan Korea Utara sejak Sabtu (22/8), membuahkan hasil positif berupa kesepakatan yang untuk sementara mengakhiri ketegangan dua negara. Ada beberapa hal yang disepakati kedua negara seperti Korea Utara yang akhirnya bersedia meminta maaf karena melukai tentara Korea Selatan.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (25/8/2015), kesepakatan lain yaitu Korea Selatan juga menyatakan menghentikan propaganda anti Pyongyang. Pembicaraan kesepakatan ini juga mengarahkan kedua pihak mengadakan upaya kelanjutan demi membaiknya hubungan. Kemudian, kedua belah pihak sepakat  membuat reuni khsusus bagi keluarga yang terpisah akibat perang Korea. Reuni ini direncanakan pada liburan musim gugur mendatang.


Sebelum terjadi kesepakatan, berikut ringkasan kronologi rangkaian peristiwa penting yang sempat membuat Semenanjung Korea memanas.

4 Agustus 2015

Ledakan terjadi di kawasan demiliterisasi yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan. Dua tentara Korsel mengalami luka-luka akibat ledakan ini. Disampaikan otoritas Korsel, seperti dilansir Reuters, ledakan ini dipicu oleh ranjau yang ditanam di daerah yang biasa disebut Zona Demiliterisasi (DMZ) tersebut.


10 Agustus 2015

Pemerintah Korea Selatan menuduh Korea Utara (Korut) sebagai pihak yang sengaja memasang ranjau darat. Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan ledakan ranjau darat adalah strategi Pyongyang yang memang sengaja untuk membunuh.


14 Agustus 2015

Pihak Korea Utara membantah tudingan sebagai pihak dibalik ledakan ranjau yang melukai dua tentara Korea Selatan. Tudingan ini dinilai pihak Pyongyang tak masuk akal.


20 Agustus 2015

Pihak Korea Selatan menyatakan siap menghadapi upaya provokasi dari Korea Utara. Korsel pun enggan menanggapi ultimatum Korut yang meminta agar Seoul menghentikan propaganda anti-Korut di perbatasan. Kedua negara pun memanas karena ada aksi saling tembak artileri.

21 Agustus 2015

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyampaikan siap perang dengan mengintruksikan pasukan di garis depan pertahanan. Kim mendeklarasikan siap menjalankan semi-perang. Pasukan Korea Utara diingatkan agar siaga menjalani setiap operasi militer.


22 Agustus 2015

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon meminta Korea Utara dan Korea Selatan bisa menahan diri. Ban ingin kedua negara tidak melakukan tindakan yang semakin meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Imbauan Ban ini karena setelah otoritas Korsel mengabaikan ultimatum Korut untuk menghentikan siaran propaganda anti-Korut. Sebagai pejabat yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri Korsel,  Ban merasa khawatir dengan perkembangan di perbatasan kedua negara.

22 Agustus 2015

Otoritas kedua negara sepakat menggelar dialog maraton di tengah ketegangan yang semakin menimuncak. Dialog pertemuan yang digelar di Desa Pamnunjom, dekat perbatasan kedua negara ini dihadiri pejabat-pejabat tinggi kedua negara dan diharapkan akan tercapai kesepakatan.

24 Agustus 2015

Dialog antara Korea Utara dengan Korea Selatan terus digelar secara maraton untuk meredakan ketegangan dua negara. Presiden Korsel Park Geun-hye meminta agar Korut meminta maaf atas insiden ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ). Korut saat itu masih belum bersedia menyampaikan permohonan maaf.



25 Agustus
 Korea Selatan dan Korea Utara akhirnya mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan kedua dalam beberapa pekan terakhir. Memanasnya hubungan kedua negara sempat membuat ketegangan militer di Semenanjung Korea.

Lantas sebuah konspirasi muncul di tengah perdamaian kedua belah pihak. Disinyalir, keadaan yang tidak menguntungkan dari pihak korea utara membuat korea menyetujui jalan damai. Kita tahu, saat ini Tiongkok sedang mengalami krisis ekonomi, dimana mereka mengambil kebijakan devaluasi mata uang, yang menyebabkan ekonominya terus melemah dan berakibat pada ekonomi global. Hal ini pun dianggap sangat berdampak bagi korea utara, karena korea utara adalah negara komunis yang sangat dekat dengan Tiongkok. Jika saja Tiongkok sedang lemah, maka Korut tidak akan punya "kawan" perang yang kuat.

Bagaimana menurut anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar